CERITA SILAT CHIN YUNG PDF

Jin Yong, atau Chin Yung dalam lafal Hokkian, adalah nama pena yang kemudian lebih terkenal dari pada nama aslinya. Dalam pergaulan internasional, pria ini menggunakan nama Louis Cha. Pada mulanya Chin Yung mengejar karier sebagai diplomat, namun akhirnya beralih ke bidang jurnalisme. Ia mengawalinya sebagai wartawan harian Ta Kung Pao di Shanghai, lalu dikirim ke kantor cabang di Hongkong. Saat itu perkembangan industri film di Hongkong sudah tergolong maju.

Author:Goltigor Meztisar
Country:Antigua & Barbuda
Language:English (Spanish)
Genre:Environment
Published (Last):28 March 2005
Pages:168
PDF File Size:8.63 Mb
ePub File Size:20.45 Mb
ISBN:852-9-15070-323-1
Downloads:52037
Price:Free* [*Free Regsitration Required]
Uploader:Tolkis



Tanpa sifat yang aneh itu, tak mungkin ia hidup didalam kolam dingin. Kalau dagingnya dimakan orang biasa, orang itu akan segera mati dengan mengeluarkan darah dari hidung, mulut dan kupingnya. Racun dingin itu kebentrok dengan racun panas dari sang kodok dan racun panas buyar, racun dinginpun ikut mereda. Tapi Boe kie sendiri tak tahu terjadinya kejadian yang sangat kebetulan itu.

Ia merasa sekujur tubuhnya lelah dan letih, rasa mengantuk menguasai dirinya. Tapi ia tidak berani tidur disitu sebab kuatir diserang kodok lain. Maka itu sambil menguatkan badan dan hati ia meninggalkan tempat itu.

Baru berjalan kira-kira satu li, ia tidak dapat mempertahankan diri lagi dan lalu rebah pulas diatas tanah. Ketika ia sadar, rembulan sudah berada ditengah tengah angkasa. Ia merasa bahwa didalam perutnya terdapat semacam bola hangat yang bergerak-gerak dan menggelinding kian kemari. Ia mengerti, bahwa daging kodok itu mempunyai zat-zat luar biasa untuk menambah tenaga. Ia merasa semangatnya bertambah dan tenaga dalamnya jadi lebih besar.

Ia segera duduk bersila dan mengerahkan Lweekang, dengan niatan mendorong hawa hangat itu ke dalam pembuluh pembuluh darahnya. Tapi sesudah berusaha beberapa kali, ia tidak berhasil bahkan kepalanya puyeng dan ulu hatinya enek. Ia menghela nafas dan berkata dalam hatinya. Baik juga, sebab ia tidak terlalu berharap hidup, ia tidak merasa kecewa. Pada keesokan tengah hari, ia merasa perutnya lapar. Ia lalu mengambil sebatang ranting pohon yang kemudian digunakan untuk mengaduk air di kolam dingin.

Beberapa saat kemudian, ranting itu sudah digigit tiga empat kodok. Perlahan-lahan ia mengangkatnya keatas dan lalu membinasakan binatang-binatang itu dengan menggunakan batu. Sekali lagi ia membuat perapian dan membakar daging kodok yang lalu digunakan untuk menangsal perut. Karena merasa bahwa ia akan bisa hidup beberapa lama lagi, maka ia lalu membuat semacam dapur dan menaruh cabang cabang kering di dalamnya, supaya ia tidak saban-saban harus membuat api.

Maka itu, hidup sebatang kara ditempat tersebut tidak menjadi susah baginya. Ia mengambil tanah liat dan membuat paso tanah, kemudian menganyam rumput untuk membuat tkar.

Ia bekerja sampai kira-kira magrib dan tiba-tiba ia ingat Coe Tiang Leng yang sekarang mestinya sudah kelaparan setengah mati. Maka itu, ia memetik satu buah dan melemparkannya ke dalam lobang terowongan. Ia tidak memberi daging kodok panggang sebab kuatir Coe Tiang Leng bertambah tenaga dan bisa menggempur dinding terowongan.

Kekuatiran si bocah ternyata sudah menyelamatkan jiwa orang she Coe. Kalau Boe Kie memberikan kodok itu, ia sudah pasti sudah melayang jiwanya.

Beberapa hari sudah lewat tanpa terjadi sesuatu yang luar biasa. Hari itu, selagi Boe Kie membuat sebuah dapur tanah, tiba-tiba ia mendengar pekik seekor kera yang menggenaskan hati. Cepat-cepat ia memburu kearah suara itu. Ternyata seekor kera kecil sedang melompat-lompat sambil memekik-mekik dengan tiga ekor kodok merah mengigit punggungnya, sedang dua ekor yang lain sudah melompat keluar dari dalam air.

Si kera bergulingan di tanah dan membanting-banting dirinya, tapi kodok-kodok itu terus menggigit erat-erat dan menghisap darah yang menjadi makanannya.

Boe Kie melompat dan mencekal lengan kiri kera itu yang lalu dibawa ke tempat lain yang jauh dari kolam dingin itu. Sesudah berada ditempat yang lebih aman, batulah ia membinasakan ketiga kodok itu. Jiwa kera itu tertolong,tapi tulang lengan kanannya patah.

Memikir begitu, ia segera mengambil dua potong ranting pohon dan sesudah menyambung tulang yang patah, ia segera menjepitnya dengan kedua ranting itu. Kemudian ia memetik beberapa macam daun obat yang lalu ditumbuk dan ditorehkan pada tulang yang patah itu. Biarpun ia tidak mendapat daun-daun obat yang mujarab, tapi berkat kepandaiannya dalam ilmu menyambung tulang, maka dalam tempo kira-kira seminggu, tulang itu sudah menyambung pula. Kera kecil itu mengenal budi. Pada keesokan harinya, ia membawa banyak bebuahan dan memberikannya pada Boe Kie.

Belum cukup sepuluh hari, lengan yang patah itu sudah sembuh seanteronya. Kejadian itu telah mengubah cara hidup Boe Kie. Sesudah disembuhkan, si kera rupanya memberitahukan kepada kawan kawannya dan tak lama kemudian, Boe Kie sudah menjadi tabib dari kawanan binatang di lembah tersebut.

Si bocah melakukan tugas baru itu dengan segala senang hati. Sesudah mendapat pengalaman pahit getir, ia mendapat kenyataan bahwa diantara binatang ada yang lebih mengenal budi daripada manusia. Satu bulan telah berlalu. Setiap hari ia makan daging kodok dan ia merasa sangat girang bahwa serangan-serangan racun dingin yang datang pada waktu-waktu tertentu, makin lama jadi semakin enteng. Pada suatu pagi, ia tersadar karena mukanya diraba oleh tangan berbulu.

Dengan kaget ia melompat bangun. Ternyata, tangan itu tangan seekor kera putih besar yang mendukung seekor kera kecil dan tengah berlutut disampingnya.

Kera kecil itu adalah kera yang tulangnya pernah disambung olehnya. Ia mengawasi dan ternyata, bahwa di perut kera itu terdapat borok yang bernanah. Ia tertawa dan manggut2kan kepala. Si kera putih mengangsurkan tangan kirinya yang mencekal buah tho dan dengan hormat memberikannya kepada Boe Kie. Buah itu besar luar biasa. Kira-kira sebesar tinju. Boe Kie merasa kagum, karena belum pernah ia melihat buah tho sebesar itu.

Tiba-tiba ia terkejut. Borok itu sendiri yang berbentuk bundar, hanya bergaris kira-kira setengah cun. Apa yang hebat ialah daging di sekitarnya keras bagaikan batu dan bagian yang keras puluhan kali lipat lebih besar daripada boroknya sendiri. Dari kitab-kitab ketabiban, Boe Kie belum pernah membaca borok yang seperti itu.

Ia merasa, bahwa jika bagian yang keras menjadi busuk dan bernanah, binatang itu tak akan dapat disembuhkan lagi.

Tapi waktu memegang nadi si kera, ia menjadi lebih heran lagi, karena denyutan nadi tidak menunjukan adanya bahaya. Ia segera menyingkap bulu yang panjang di perut binatang itu untuk diperiksa lebih teliti. Begitu melihat ia terkesinap, sebab bagian yang keras itu berbentuk empat persegi dan dipinggirannya terlihat bekas jaitan benang. Tak dapat disangkal lagi bahwa jahitan itu adalah perbuatan manusia. Walaupun pintar, binatang kera tak bisa menjahit.

Sesudah memeriksa, Boe Kie mengerti, bahwa borok itu disebabkan oleh benda keras itu. Benda itu menonjol keluar dan menggencet pembuluh darah. Sehingga darah tak bisa mengalir leluasa, otot-otot menjadi rusak dan mengakibatkan borok yang tidak bisa sembuh. Maka itu, untuk menyembuhkannya, ia harus mengeluarkan benda itu dari perut si kera. Soal membedah tidak jadi soal, sebab berkat ajaran Ouw Ceng Goe, ia sudah mahir dalam ilmu itu. Yang menjadi soal ialah tak punya pisau dan obat obatan.

Sesudah mengasah otak beberapa lama, ia mencari sepotong batu tipis dan lalu menggosoknya sampai tajam. Sesudah itu, dengan menggunakan pisau tersebut, perlahan ia memotong perut si kera, di bagian bekas jahitan. Kera itu yang sudah berusia sangat tua, ternyata mengerti maksud pembedahan itu.

Meski merasakan kesakitan hebat, ia tidak bergerak sedikitpun jua dan menahan sakit sambil mengeluarkan rintihan tak lama kemudian, Boe Kie sudah memotong bagian atas dan bawah bekas jahitan itu. Di dalamnya terdapat bungkusan kain minyak. Dengan rasa heran yang sangat besar, ia mencabut dan menaruh bungkusan itu ke tanah dan buru buru menutup lagi kulit yang terbuka untuk dijahit.

Baru sekarang ia ingat bahwa ia tak punya jarum dan benang. Tapi si bocah tidak kekurangan akal. Ia segera mengambil gigi kodok merah yang tajam dan membuat lubang-lubang di pinggiran kulit. Sesudah itu dengan menggunakan serat kulit kayu ia membuat benang dan dengan demikian, biarpun tidak sempurna ia berhasil menjahit perut si kera, yang rubuh pingsan karena mengeluarkan terlalu banyak darah.

Selesai membedah, Boe Kie segera mencuci bungkusan kain minyak yang berlepotan darah dan membukanya. Ternyata didalam bungkusan terdapat empat jilid kitap yang sangat tipis. Karena terbungkus rapat, maka biarpun sudah beberapa lama di dalam perut kera, kitap-kitap itu masih utuh. Diatas kertas terdapat huruf2 yang tidak dikenal Boe Kie.

Ia lalu membalik-balik lembaran dan ternyata, bahwa diantara barisan2 huruf yang tidak dikenal terdapat juga huruf2 Tionghoa. Dengan hati berdebar2, Boe Kie lalu membacanya. Ia mendapat kenyataan, bahwa isi kitab adalah pelajaran untuk melatih pernafasan dan tenaga dalam. Tiba2 jantungnya melonjak. Ia membaca tiga baris huruf yang sudah dikenalnya. Ia segera ingat bahwa huruf-huruf itu terdapat dalam pelajaran Siauw-lim Kioe yang kang, yang pernah dipelajarinya dalam kuil Siauw Liem Sie.

Tapi waktu ia membaca terus, lanjutannya berbeda dengan pelajaran itu. Ia membuka lagi dan membaca beberapa halaman secara sepintas lalu. Sekali ia terkesinap, sebab, ia kembali menemukan tiga baris huruf yang sudah dihafalnya, yaitu pelajaran Boe Tong Lweekang Sim hoat yang diturunkan oleh mendiang ayahnya sendiri. Jantung Boe Kie memukul keras.

APOSTOLORUM SUCCESSORES PDF

Download Cerita Silat Karya Chin Yung (Jin Yong) Lengkap

Jin Yong, atau Chin Yung dalam lafal Hokkian, adalah nama pena yang kemudian lebih terkenal dari pada nama aslinya. Dalam pergaulan internasional, pria ini menggunakan nama Louis Cha. Pada mulanya Chin Yung mengejar karier sebagai diplomat, namun akhirnya beralih ke bidang jurnalisme. Ia mengawalinya sebagai wartawan harian Ta Kung Pao di Shanghai, lalu dikirim ke kantor cabang di Hongkong.

CLEANTH BROOKS THE HERESY OF PARAPHRASE PDF

Cerita Silat Karya Chin Yung dan Khu Lung

Semenjak kecil, di bawah pimpinan ibunya Kwee Siang telah mempelajari berbagai ilmu sehingga, walaupun tidak terlalu mendalam, ia mengenali baik ilmu menabuh khim, ilmu main tiokie catur Tioaghoa , Unit surat dan melukis yang umumnya di miliki oleh orang2 terpelajar pada jaman itu, di tambah dengan otaknya yang sangat cerdas, ia tak usah kalah dari orang2 biasa dan malahan ia masih sanggup menimpali kakeknya dalam ilmu musik dan melayani Coe Coe Lioe dalam ilmu surat. Sekarang mendengar suara tabuh tabuhan yang agak aneh itu, ia segera mendekati dengan indap-indap. Dalam jarak belasan tombak, barulah terang baginya, bahwa suara khim itu diiringi oleh suara ratusan burung. Dengan rasa heran, ia lalu mengintip dari belakang satu pohon besar dan terlihat seorang lelaki yang mengenakan baju putih sedang duduk di bawah tiga pohon siong sambil menabuh khim. Di dahan2 ketiga pohon itu terdapat ratusan ekor burung besar dan kecil yang menyanyi menurut irama tabuh2an itu.

DROGA PONUREGO PDF

CERITA SILAT TERLENGKAP 2016 KARYA CHIN YUNG

Tanpa sifat yang aneh itu, tak mungkin ia hidup didalam kolam dingin. Kalau dagingnya dimakan orang biasa, orang itu akan segera mati dengan mengeluarkan darah dari hidung, mulut dan kupingnya. Racun dingin itu kebentrok dengan racun panas dari sang kodok dan racun panas buyar, racun dinginpun ikut mereda. Tapi Boe kie sendiri tak tahu terjadinya kejadian yang sangat kebetulan itu. Ia merasa sekujur tubuhnya lelah dan letih, rasa mengantuk menguasai dirinya.

Related Articles