PARONIKIA PDF

Infeksi ini bisa berbentuk seperti abses akibat infeksi bakteri atau jamur. Kondisi ini terjadi saat adanya gangguan antara lapisan dari lempeng kuku dan dasar kuku bagian proksimal menjauhi tubuh. Paranokia sendiri bisa dikelompokkan menjadi dua, yaitu akut dan kronis. Untuk paronikia akut, biasanya hanya melibatkan infeksi pada satu kuku jari.

Author:Shasar Shaktizahn
Country:New Zealand
Language:English (Spanish)
Genre:Health and Food
Published (Last):22 June 2019
Pages:283
PDF File Size:10.27 Mb
ePub File Size:20.54 Mb
ISBN:825-9-97112-347-8
Downloads:47409
Price:Free* [*Free Regsitration Required]
Uploader:Arazshura



Infeksi ini bisa berbentuk seperti abses akibat infeksi bakteri atau jamur. Kondisi ini terjadi saat adanya gangguan antara lapisan dari lempeng kuku dan dasar kuku bagian proksimal menjauhi tubuh.

Paranokia sendiri bisa dikelompokkan menjadi dua, yaitu akut dan kronis. Untuk paronikia akut, biasanya hanya melibatkan infeksi pada satu kuku jari. Sementara itu, paronikia kronis bisa terjadi pada lebih dari satu kuku jari. Kondisi ini bisa terjadi pada waktu yang bersamaan atau berulang.

Faktor Risiko Paronikia Terdapat beberapa faktor risiko yang bisa memicu terjadi paronikia, contohnya: Pekerjaan yang berhubungan atau bersentuhan dengan air, seperti nelayan, pencuci baju atau piring, pemerah susu, atau bartender. Kondisi kuku, terjadinya perkembangan kuman akibat kondisi tertentu. Contohnya mengenakan kuku palsu dalam waktu lama. Luka, bisa menyebabkan masuknya kuman ke lapisan kulit. Contoh kebiasaan yang bisa menimbulkan luka, seperti kebiasaan menggigit kuku, atau teknik manikur yang salah.

Penyebab Paronikia Infeksi akut hampir selalu terjadi di sekitar kuku tangan dan berkembang dengan cepat. Biasanya, hasil dari kerusakan kulit di sekitar kuku yang disebabkan oleh kebiasaan menggigit, memetik kuku, manicure, atau trauma fisik lainnya. Staphylococcus dan Enterococcus merupakan bakteri yang paling sering menyebabkan paronikia akut.

Untuk paronikia kronis, biasanya menyerang jari-jari tangan atau kaki dan datang peralahan. Kondisi ini bisa berlangsung dalam kurun waktu bberapa minggu, dan umumnya terjadi berulang. Paronikia jenis ini umumnya disebabkan oleh satu penyebab, dan seringnya terjadi pada mereka yang bekerja di air. Alasannya, kulit basah dalam waktu berlebihan dapat mengganggu lapisan alami kutikula. Ini memungkinkan jamur dan bakteri untuk tumbuh di bawah kulit dan menyebabkan infeksi.

Umumnya, paronikia lebih sering menyerang wanita dewasa dan orang-orang yang mengidap diabetes. Di samping itu, mereka yang memiliki sistem kekebalan yang lemah, seperti orang yang harus minum obat kortikosteroid setelah transplantasi organ atau orang yang terinfeksi HIV juga rentan mengalami paronikia. Gejala Paronikia Dalam kebanyakan kasus, gejala dari paronikia akut dan kronis sedikit sulit dibedakan, sebab gejalanya sangat mirip. Namun, gejalanya bisa dibedakan berdasarkan onset dan durasi infeksi.

Infeksi kronis yang dialami pengidapnya bisa datang secara perlahan, dan terjadi selama beberapa minggu. Sedangkan infeksi akut berkembang dengan cepat dan tidak berlangsung lama. Kedua infeksi dapat memiliki gejala berikut: Kemerahan pada kulit di sekitar kuku. Kelembutan kulit di sekitar kuku. Lepuhan berisi nanah. Perubahan bentuk kuku, warna, atau tekstur. Lepasnya lempeng kuku dari dasar kuku. Ketika seseorang terserang paronikia, gejala awal yang muncul umumnya rasa sakit, bengkak, dan kemerahan di sekitar pangkal atau sisi kuku.

Andaikan yang terjadi paronikia akut, biasanya paronikia jenis ini sering menyebabkan kantung berisi nanah abses. Abses ini bisa terbentuk di samping atau pangkal kuku atau kuku jari kaki. Sedangkan paronikia kronis bisa saja menyebabkan pecahnya kutikula lapisan kulit yang berada tepat di pangkal kuku. Kondisi inilah yang bisa berujung terpisahnya lempeng kuku dari dasar kuku.

Hal yang perlu digarisbawahi, paronikia karena bakteri bisa lebih buruk dengan cepat, dibandingkan dengan paronikia yang disebabkan oleh jamur. Diagnosis Paronikia Untuk mendiagnosis paronikia, umumnya dokter akan melihat ada-tidaknya infeksi yang terjadi. Dokter mungkin mengirim sampel nanah dari infeksi ke lab jika perawatan tidak membantu.

Hal ini dilakukan untuk menentukan agen penyebab yang tepat, sehingga memungkinkan dokter untuk memberikan perawatan terbaik. Beberapa studi laboratorium yang bermanfaat antara lain berikut: Pewarnaan Gram dan atau kultur, untuk membantu mengidentifikasi penyebab bakteri paronikia yang fluktuatif. Kalium hidroksida KOH 5 persen digunakan untuk mendiagnosis paronikia akibat infeksi candida. Tes tzanck. Komplikasi Paronikia Paronikia yang dibiarkan tanpa penanganan bisa memicu berbagai masalah lainnya.

Misalnya perubahan permanen pada bentuk kuku, abses, hingga menyebarnya infeksi pada tendon, tulang, atau aliran darah. Pengobatan Paronikia Untuk mengurangi rasa sakit dan bengkak akibat paronikia akut, cobalah kompres bagian yang mengalami infeksi menggunakan air hangat. Untuk hasil yang maksimal, lakukan 3 sampai 4 kali dalam sehari. Dokter mungkin akan meresepkan antibiotik jika paronikia disebabkan oleh bakteri.

Di samping itu, dokter juga mungkin meresepkan obat anti jamur jika infeksi disebabkan oleh jamur. Namun, bila paronikia menyebabkan abses, penanganannya lain lagi. Di sini dokter akan melakukan drainase, sebuah metode yang umum untuk mengatasi abses. Dokter akan membius area, memisahkan kulit dari pangkal atau sisi kuku, dan mengeluarkan nanah. Sebaiknya jagalah kondisi kuku agar tetap kering, dan lindungi dari bahan kimia yang keras. Pengidap mungkin perlu memakai sarung tangan atau menggunakan krim pengering kulit untuk melindungi kulit dari kelembapan.

Mungkin juga diperlukan pemberian obat antijamur atau antibiotik, tergantung pada apa yang menyebabkan infeksi.

Dalam beberapa kasus, pemakaian krim steroid atau larutan yang terbuat dari etanol alkohol dan tiol fungisida diperlukan untuk menjaga kuku tetap bersih dan kering. Terdapat beberapa upaya yang bisa dilakukan untuk mencegah paronikia akut, contohnya: Hindari melukai kuku dan ujung jari. Jangan menggigit atau mencabut kuku. Jaga kuku tetap rapi dan halus.

Hindari memotong kuku terlalu pendek dan mengikis atau memotong kutikula, karena ini dapat melukai kulit. Gunakan gunting kuku atau gunting kuku yang bersih. Sementara itu, jagalah tangan tetap kering dan bebas dari bahan kimia unuk mencegah terjadinya paronikia kronis. Gunakan sarung tangan saat bekerja dengan air atau bahan kimia yang keras. Ganti kaus kaki setidaknya setiap hari, dan jangan memakai sepatu yang sama selama dua hari berturut-turut untuk memungkinkan mereka mengering sepenuhnya.

Kapan Harus ke Dokter? Segeralah temui dokter bila mengalami keluhan atau gejala di atas, untuk mendapatkan saran medis dan penanganan yang tepat. Diakses pada Diperbarui pada 17 September

DEBORAH COOKE FLASHFIRE PDF

Paronychia

Medically reviewed by Drugs. Last updated on May 2, A paronychia is an infection of the skin that surrounds a toenail or fingernail. There are two different types of paronychia, acute and chronic: Acute paronychia — This usually appears as a sudden, very painful area of swelling, warmth and redness around a fingernail or toenail, usually after an injury to the area. An acute paronychia typically is caused by an infection with bacteria that invade the skin where it was injured. The injury can be caused by overaggressive manicuring especially cutting or tearing the cuticle, which is the rim of paper-thin skin that outlines the outer margins of your nail. It can also result from biting the edges of the nails or the skin around the nails, picking at the skin near the nails or sucking on the fingers.

CAFISSIMO DUO BEDIENUNGSANLEITUNG PDF

Paroniquia

Overview Paronychia is an infection of the skin around your fingernails and toenails. Bacteria or a type of yeast called Candida typically cause this infection. Bacteria and yeast can even combine in one infection. Depending on the cause of the infection, paronychia may come on slowly and last for weeks or show up suddenly and last for only one or two days. The symptoms of paronychia are easy to spot and can usually be easily and successfully treated with little or no damage to your skin and nails.

Related Articles